KAWASAN Padang Baru di Pangkalpinang, Bangka Belitung mendadak ramai dengan pemanjat. Sebelumnya, daerah itu hanya hutan semak belukar. Sejak dibangun "tebing" buatan, riuh pun terdengar.
Di sana berdiri Wall Climbing, SportCentre dengan angkuh. "Kita iri melihat fasilitas ini," gumam Saiful Azmi yang berdiri di samping Cakradonya, di sela-sela penyelenggaraan Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) IX Sumatera, Babel, bulan November lalu.
Saiful Azmi adalah manajer cabang Panjat Tebing. Dia mengakui keki melihat fasilitas yang dipunya Bangka Belitung. Sedangkan Aceh hanya terbatas, itu pun ada di Sabang dan Idi, Aceh Timur. "Itu pun masih ada kurang di sana sini."
Dalam kondisi begitu, pengurus provinsi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Aceh mengikuti 14 dari 18 nomor yang dipertandingkan. Dengan total atlet yang dibawa sebanyak delapan orang. Dengan fasilitas seadanya, bisa mengukir prestasi.
Azmi membawahi delapan atlet pada Porwil kali ini. "Sebelumnya kita main di Pra PON bukan di Porwil. Ini Porwil pertama, alhamdulillah, dapat tiga medali, satu emas, perak dan perunggu. Ini sudah sesuai dengan target kita, dimana kita optimis akan mendapatkan satu emas, satu perak dan perunggu,” katanya.
Bagi Azmi, dirinya tak merasa aneh, bila atlet-atlet tuan rumah yang menjadi juara umum panjat tebing. "Wajar sekali, karena mereka punya fasilitas yang bagus. Ini hasilnya," ungkapnya.
Azmi mengaku mengimpikan, agar Pemerintah Aceh bisa membangun fasilitas olahraga yang baik demi menunjang prestasi. Kata dia, kalau untuk panjat tebing sesuai standar bisa dibikin. "Tinggal kemauan saja," tutur dia.
Mimpi Azmi seakan di dengar wakil Pemerintah Aceh, dalam hal ini Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Iskandar Zulkarnain. Iskandar ikut mengalungkan medali pada pemanjat Aceh, Ade Andriatos yang sukses memborong dua medali sekaligus.
Melihat keberhasilan itu, Iskandar Zulkarnaen merasa sangat puas dengan hasil yang dicapai atlet panjat tebing. Karena dengan sarana dengan sarana prasarana yang sangat terbatas, namun atlet bisa menunjukkan prestasi.
“Ke depan kita akan mensupport sarana dan prasarana olahraga panjat tebing, apalagi cabang olahraga panjat tebing Aceh cukup diperhitungkan untuk tingkat Sumatera,” kata Iskandar.
Apalagi, Iskandar sudah melihat sendiri potensi atlet Aceh. “Malahan ada beberapa provinsi yang tidak lolos untuk ke Porwil. Tapi, atlet kita berhasil memperoleh medali di ajang Porwil," sebut dia.
Iskandar juga menyampaikan, jika memungkinkan, tahun 2016 akan diupayakan pembangunan sarana olahraga untuk panjat tebing berstandar internasional.
Menyikapi itu, Ketua Umum FPTI Aceh, Muhammad Saleh, saat dihubungi terpisah mengatakan, "Alhamdulillah, jika itu sudah masuk ke wacana Dispora. Dan, mereka juga bisa melihat sendiri, bahwa di Aceh tidak ada wall (dinding) yang memenuhi standar,"
Jika itu sudah hadir, sejumlah event baik nasional maupun internasional, bisa digelar di Banda Aceh. Selain itu, prestasi atlet bisa terdongkrak, karena sudah punya sarana yang memadai. "Selama ini kami tak ingin bicara banyak, tapi terus berbuat dan memberi prestasi."
Karena itu, Saleh yang juga mantan Sekretaris KONI Aceh ini menyambut baik wacana yang dilontarkan Kadispora. "Jika memang pemerintah berminat, tak perlu sekaligus, setiap tahun satu wall yang berstandar Internasional saja dibangun sudah cukup," saran Saleh. [a]
Di sana berdiri Wall Climbing, SportCentre dengan angkuh. "Kita iri melihat fasilitas ini," gumam Saiful Azmi yang berdiri di samping Cakradonya, di sela-sela penyelenggaraan Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) IX Sumatera, Babel, bulan November lalu.
Saiful Azmi adalah manajer cabang Panjat Tebing. Dia mengakui keki melihat fasilitas yang dipunya Bangka Belitung. Sedangkan Aceh hanya terbatas, itu pun ada di Sabang dan Idi, Aceh Timur. "Itu pun masih ada kurang di sana sini."
Dalam kondisi begitu, pengurus provinsi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Aceh mengikuti 14 dari 18 nomor yang dipertandingkan. Dengan total atlet yang dibawa sebanyak delapan orang. Dengan fasilitas seadanya, bisa mengukir prestasi.
Azmi membawahi delapan atlet pada Porwil kali ini. "Sebelumnya kita main di Pra PON bukan di Porwil. Ini Porwil pertama, alhamdulillah, dapat tiga medali, satu emas, perak dan perunggu. Ini sudah sesuai dengan target kita, dimana kita optimis akan mendapatkan satu emas, satu perak dan perunggu,” katanya.
Bagi Azmi, dirinya tak merasa aneh, bila atlet-atlet tuan rumah yang menjadi juara umum panjat tebing. "Wajar sekali, karena mereka punya fasilitas yang bagus. Ini hasilnya," ungkapnya.
Azmi mengaku mengimpikan, agar Pemerintah Aceh bisa membangun fasilitas olahraga yang baik demi menunjang prestasi. Kata dia, kalau untuk panjat tebing sesuai standar bisa dibikin. "Tinggal kemauan saja," tutur dia.
Mimpi Azmi seakan di dengar wakil Pemerintah Aceh, dalam hal ini Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Iskandar Zulkarnain. Iskandar ikut mengalungkan medali pada pemanjat Aceh, Ade Andriatos yang sukses memborong dua medali sekaligus.
Melihat keberhasilan itu, Iskandar Zulkarnaen merasa sangat puas dengan hasil yang dicapai atlet panjat tebing. Karena dengan sarana dengan sarana prasarana yang sangat terbatas, namun atlet bisa menunjukkan prestasi.
“Ke depan kita akan mensupport sarana dan prasarana olahraga panjat tebing, apalagi cabang olahraga panjat tebing Aceh cukup diperhitungkan untuk tingkat Sumatera,” kata Iskandar.
Apalagi, Iskandar sudah melihat sendiri potensi atlet Aceh. “Malahan ada beberapa provinsi yang tidak lolos untuk ke Porwil. Tapi, atlet kita berhasil memperoleh medali di ajang Porwil," sebut dia.
Iskandar juga menyampaikan, jika memungkinkan, tahun 2016 akan diupayakan pembangunan sarana olahraga untuk panjat tebing berstandar internasional.
Menyikapi itu, Ketua Umum FPTI Aceh, Muhammad Saleh, saat dihubungi terpisah mengatakan, "Alhamdulillah, jika itu sudah masuk ke wacana Dispora. Dan, mereka juga bisa melihat sendiri, bahwa di Aceh tidak ada wall (dinding) yang memenuhi standar,"
Jika itu sudah hadir, sejumlah event baik nasional maupun internasional, bisa digelar di Banda Aceh. Selain itu, prestasi atlet bisa terdongkrak, karena sudah punya sarana yang memadai. "Selama ini kami tak ingin bicara banyak, tapi terus berbuat dan memberi prestasi."
Karena itu, Saleh yang juga mantan Sekretaris KONI Aceh ini menyambut baik wacana yang dilontarkan Kadispora. "Jika memang pemerintah berminat, tak perlu sekaligus, setiap tahun satu wall yang berstandar Internasional saja dibangun sudah cukup," saran Saleh. [a]
