Facebook

Ads

Mimpi Iskandar Zulkarnain di Padang Baru

KAWASAN Padang Baru di Pangkalpinang, Bangka Belitung mendadak ramai dengan pemanjat. Sebelumnya, daerah itu hanya hutan semak belukar. Sejak dibangun "tebing" buatan, riuh pun terdengar.

Di sana berdiri Wall Climbing, SportCentre dengan angkuh. "Kita iri melihat fasilitas ini," gumam Saiful Azmi yang berdiri di samping Cakradonya, di sela-sela penyelenggaraan Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) IX Sumatera, Babel, bulan November lalu.

Saiful Azmi adalah manajer cabang Panjat Tebing. Dia mengakui keki melihat fasilitas yang dipunya Bangka Belitung. Sedangkan Aceh hanya terbatas, itu pun ada di Sabang dan Idi, Aceh Timur. "Itu pun masih ada kurang di sana sini."

Dalam kondisi begitu, pengurus provinsi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Aceh mengikuti 14 dari 18 nomor yang dipertandingkan. Dengan total atlet yang dibawa sebanyak delapan orang. Dengan fasilitas seadanya, bisa mengukir prestasi.

Azmi membawahi delapan atlet pada Porwil kali ini. "Sebelumnya kita main di Pra PON bukan di Porwil. Ini Porwil pertama, alhamdulillah, dapat tiga medali, satu emas, perak dan perunggu. Ini sudah sesuai dengan target kita, dimana kita optimis akan mendapatkan satu emas, satu perak dan perunggu,” katanya.

Bagi Azmi, dirinya tak merasa aneh, bila atlet-atlet tuan rumah yang menjadi juara umum panjat tebing. "Wajar sekali, karena mereka punya fasilitas yang bagus. Ini hasilnya," ungkapnya.

Azmi mengaku mengimpikan, agar Pemerintah Aceh bisa membangun fasilitas olahraga yang baik demi menunjang prestasi. Kata dia, kalau untuk panjat tebing sesuai standar bisa dibikin. "Tinggal kemauan saja," tutur dia.

Mimpi Azmi seakan di dengar wakil Pemerintah Aceh, dalam hal ini Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Iskandar Zulkarnain. Iskandar ikut mengalungkan medali pada pemanjat Aceh, Ade Andriatos yang sukses memborong dua medali sekaligus.

Melihat keberhasilan itu, Iskandar Zulkarnaen merasa sangat puas dengan hasil yang dicapai atlet panjat tebing. Karena dengan sarana dengan sarana prasarana yang sangat terbatas, namun atlet bisa menunjukkan prestasi.

“Ke depan kita akan mensupport sarana dan prasarana olahraga panjat tebing, apalagi cabang olahraga panjat tebing Aceh cukup diperhitungkan untuk tingkat Sumatera,” kata Iskandar.

Apalagi, Iskandar sudah melihat sendiri potensi atlet Aceh. “Malahan ada beberapa provinsi yang tidak lolos untuk ke Porwil. Tapi, atlet kita berhasil memperoleh medali di ajang Porwil," sebut dia.

Iskandar juga menyampaikan, jika memungkinkan, tahun 2016 akan diupayakan pembangunan sarana olahraga untuk panjat tebing berstandar internasional.

Menyikapi itu, Ketua Umum FPTI Aceh, Muhammad Saleh, saat dihubungi terpisah mengatakan, "Alhamdulillah, jika itu sudah masuk ke wacana Dispora. Dan, mereka juga bisa melihat sendiri, bahwa di Aceh tidak ada wall (dinding) yang memenuhi standar,"

Jika itu sudah hadir, sejumlah event baik nasional maupun internasional, bisa digelar di Banda Aceh. Selain itu, prestasi atlet bisa terdongkrak, karena sudah punya sarana yang memadai. "Selama ini kami tak ingin bicara banyak, tapi terus berbuat dan memberi prestasi."

Karena itu, Saleh yang juga mantan Sekretaris KONI Aceh ini menyambut baik wacana yang dilontarkan Kadispora. "Jika memang pemerintah berminat, tak perlu sekaligus, setiap tahun satu wall yang berstandar Internasional saja dibangun sudah cukup," saran Saleh. [a]

Wulan, Si Mungil Bernyali Besar

BADAN boleh saja mungil, tapi tidak dengan nyali pesilat putri Aceh, Dewi Hijjah Wulandari. Itu sudah dibuktikannya dalam dua Pekan Olahraga Wilayah Sumatera (Porwil). 

Dua kali Porwil dia, sukses mempertahankan prestasi apiknya; emas.

Teranyar,  pada Porwil IX di Bangka Belitung, gadis Banda Aceh, 21 Juni 1991 ini membuka kran medali emas Aceh di cabang pencak silat. Dalam tarung di GOR Serbaguna Atma Luhur, Pangkalpinang, dia kembali mengambil sekeping emas.

"Itu emas kedua saya di Porwil setelah di Batam tahun 2011 lalu," ungkap lajang yang punya nama panggilan Wulan ini saat menjawab Cakradonya.

Selain Wulan, dalam cabang silat, Aceh mendapat dua medali tambahan melalui Maulitawati dan Misran. Sedangkan pada Porwil VIII di Batam, Aceh hanya dapat satu emas lewat jasa Wulan.

Sukses mengemas prestasi di Porwil tak membuat anak Abdul Muthalib dengan Ainul Mardhiah (alm) itu cepat puas.  Dalam darahnya terus mengalir semangat Cut Nyak Dhien yang membara.

Gadis 24 tahun ini mengakui, tanpa peran orang tua dan pelatih, dirinya tak bisa apa-apa. Makanya, Wulan merasa amat beruntang budi pada sederet pelatihnya yakni, Maimun, Beny Arifto, Mansursyah, Budi Wibowo dan Azhari. "Terima kasih Wulan untuk mereka yang telah melatih dengan tanpa pamrih sehingga bisa meraih prestasi. Ada ribuan terima kasih untuk mereka semua," ungkap Wulan lirih.

Mantan mahasiswi jurusan Penjaskesrek FKIP Universitas Syiah Kuala ini selalu berharap, tekad dan kerjasama yang selama ini sudah ada bisa terus berlanjut. "Karena tanpa adanya kerja sama dan bahu membahu maka apapun tujuan kita tak akan terwujud," urai dia.

Begitu pula dengan institusi atau lembaga yang menaungi mereka, ia berharap agar semuanya bisa bekerja sama antara pengurus KONI, Pengurus IPSI, pelatih dan atlet. "Sehingga sama-sama kita bisa mewujudkan tujuan kita di PON 2016 di Jawa Barat nanti," sebut Wulan.

Tekad tersebut terus dipupuk Wulan dengan giat berlatih, berlatih dan berlatih. "Karena untuk ke depan eventnya sangat menantang. Jadi harus mempersiapkan diri lebih siap lagi," tukas dia.

"Semoga saja di PON nanti, Wulan akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi. Karena Wulan hanya bisa berusaha dan berdoa, yang memberi keputusan hanyalah Allah SWT. Mohon dukungan masyarakat Aceh tentunya." ucapnya.

Harapannya, sambung dia, semoga saja atas izin Allah SWT, dirinya dapat terus mempertahankan dan meningkatkan prestasi demi mengharumkan nama Aceh. "Insha Allah," sahut Wulan.

Wulan yang sudah sejak kecil mencintai silat ini mengakui mencintai olahraga keras itu. Sejal umur 10 tahun atau tepat saat dia masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, sudah memulai latihan.

"Sejak dari kecil saya suka dengan bela diri, sehingga dengan adanyaa bakat dan minat dalam diri Wulan akhirnya berlatih silat sampai sekarang umur 24 tahun.  Alhamdulillah masih bertahan sampai sekarang," ungkapnya.

Sepanjang kariernya sebagai atlet silat, Wulan sudah lama memendam hasrat ingin bermain di level internasional semacam SEA Games. Sebenarnya, peluang itu sempat terbuka bagi dia untuk membela Indonesia di arena SEA Games 2013 lalu. Namun,  dia harus memendam kecera, karena nomor andalannya tidak dipertandingkan di event dua tahunan itu.

Dia berhak tampil di SEA Games saat itu, karena berhasil meraih medali emas dalam Kejuaraan Pencak Silat Antarbangsa di Myanmar. Kejuaraan tersebut, ajang try out bagi para atlet sebelum terjun di arena SEA Games.

"Kecewa juga sih saat itu, karena kelas A putri tidak dipertandingkan di SEA Games Myanmar," keluhnya. Kata dia, bukan cuma kelas A putri yang tidak dipertandingkan di cabang pencak silat, kelas B putri dan E putri juga sama. "Karena tak bisa tampil di SEA Games, makanya saat itu saya fokus menyelesaikan kuliah dan latihan saja," ujar peraih perunggu PON Riau ini.

Bio Data
Nama : Dewi Hijjah Wulandari.
Panggilan: Wulan
Lahir: Banda Aceh, 12 Juni 1991
Orang Tua: Abdul Muthalib dan  Ainul Mardhiah
Pendidikan: Alumnus FKIP Unsyiah
Cabor: Silat (kelas A putri)
Prestasi :
Porda Bireun 2010 (emas)
Porwil VIII 2011 Batam (emas)
PON XVIII Riau 2012 (perunggu) Friendly Games Myanmar 2013 (emas) Pra Sea Games 2013 (emas)
Pomnas Yogjakarta 2013 (perunggu) PORA 2014 Aceh Timur (emas)
Porwil IX Babel 2015 (emas).

"Mitologi" Martunis dan "The Stuff of Legend"

Sepak bola kembali menjatuhkan tuah dan gezahnya bagi para pecinta olahraga itu. Sudah tak terbilang betapa banyak balada kehidupan yang bersinggungan dengan sepak bola. Martunis adalah salah satu babad yang menghentak jagad.

Satu dasawarsa silam, bocah malang itu nyaris menjadi korban tsunami 2004. Tragedi yang merenggut nyawa ibu dan saudaranya itulah yang kemudian membuka gerbang pertemanan dengan superstar lapangan hijau asal Portugal, Cristiano Ronaldo.

Itu semua bermula dari kegemarannya memakai baju alias jersey sepak bola. Dan, pada saat musibah itu terjadi, bocah asal Tibang, Banda Aceh ini mengenakan duplikat kostum timnas Portugal nomor 10 bertuliskan nama Rui Costa.

Usai ditemukan kru televisi Sky News, Martunis pun seperti diantar untuk mengenal dunia dan para pelaku sepak bola kelas dunia. Salah satu diantaranya tentu saja Cristiano Ronaldo. Dia pun menabur simpati pada bocah ini kala itu.

Hubungan itulah yang kemudian makin memantik semangat Martunis untuk menatap masa depan dan melupakan rasa trauma. Lalu, kisah "kekeluargaan" antara keduanya membetot perhatian dunia.

Sekarang, Martunis sedang meniti karier mengikuti sang idola yang juga ayah angkatnya. Oktober ini sudah empat bulan remaja berusia 18 tahun itu bergabung dengan akademi Sporting Lisbon. Belakangan kisah Martunis dan Ronaldo ditulis oleh Ronald Duker dalam kolomnya di majalah mingguan FIFA.

Lewat tulisannya dalam rubrik "The Art of Football", yang terbit Jumat 9 Oktober 2015, Duker mengaitkan kisah perjalanan Martunis dengan kisah-kisah lahirnya kepahlawanan dari era Musa hingga Oedipus. Tulisan itu berjudul "The Stuff of Legend".

Duker membuka tulisan tersebut dengan sebuah pertanyaan, "Bagaimana bisa seorang bocah bisa menjadi pahlawan?" Dalam tulisan itu disebutkan, kisah-kisah kepahlawanan punya garis besar yang mirip. Seorang pahlawan kerap digambarkan lahir dari keluarga raja yang memiliki banyak kemudahan.

Namun bagi Martunis, ceritanya sedikit berbeda di mana anak pasangan Sarbini dan Salwa itu mengawalinya dari kesusahan saat menjadi korban tsunami 2004 lalu. Peristiwa maha dahsyat itu yang kemudian melambungkan nama serta bisa bertatap muka dengan pemain kelas dunia.

Bahkan Martunis yang sedang belajar sepak bola di negara idolanya juga belum bisa menentukan apakah masa depannya bakal secerah ayah angkatnya atau tidak.

Kendati, gayanya sudah mengikuti sang idola CR7, baik dari segi gaya rambut, fashion, dan lainnya. Tentu saja termasuk belajar sepak bola di akademi yang sama saat mantan pacar Irina Shayk itu mengawali karier.

Namun, apakah mitologi kepahlawanan lantas akan berulang? Tidak ada yang bisa berkata. Hanya waktulah yang bisa menjawab apakah Martunis bisa berkembang di lapangan hijau atau tidak.

Namun, bila merunut pernyataan Direktur Akademi Sporting CP, Miguel Sampaio seperti dilansir goal.com, Martunis tidak temasuk "keluarga raja" karena dia harus berlatih keras di gym guna menyesuaikan postur tubuhnya dengan rekannya dari Eropa.

“Tujuannya saat ini adalah agar Martunis bisa beradaptasi di Portugal, belajar di dalam dan di luar lapangan. Memiliki kegiatan di sini, sepakbola, bahasa, dan hal apapun itu,” sebut Sampaio yang juga psikolog olahraga di akademi tersebut.

Menurut dia, Martunis telah berjuang keras untuk membuktikan diri bahwa ia layak berada di akademi Sporting Lisbon. “Kami melihat dia setiap hari dan mencoba untuk membantunya dalam segala hal. Mulai dari sosial, pengalaman, serta studinya,” kata Miguel Sampaio.

Martunis menunjukkan memiliki karakter dan visi sepakbola yang sesuai dengan Sporting. Kami melihat dia suka bermain sepakbola dan kemampuannya bisa untuk masuk ke dalam akademi kami,” ujar dia.

Tapi paling tidak, ini sudah menunjukkan bahwa sepak bola mampu menuliskan kisah indah yang biasanya ditemukan dalam literatur seni dan mitologi. [indra/lpt6/goal]
Diberdayakan oleh Blogger.