Satu dasawarsa silam, bocah malang itu nyaris menjadi korban tsunami 2004. Tragedi yang merenggut nyawa ibu dan saudaranya itulah yang kemudian membuka gerbang pertemanan dengan superstar lapangan hijau asal Portugal, Cristiano Ronaldo.
Itu semua bermula dari kegemarannya memakai baju alias jersey sepak bola. Dan, pada saat musibah itu terjadi, bocah asal Tibang, Banda Aceh ini mengenakan duplikat kostum timnas Portugal nomor 10 bertuliskan nama Rui Costa.
Usai ditemukan kru televisi Sky News, Martunis pun seperti diantar untuk mengenal dunia dan para pelaku sepak bola kelas dunia. Salah satu diantaranya tentu saja Cristiano Ronaldo. Dia pun menabur simpati pada bocah ini kala itu.
Hubungan itulah yang kemudian makin memantik semangat Martunis untuk menatap masa depan dan melupakan rasa trauma. Lalu, kisah "kekeluargaan" antara keduanya membetot perhatian dunia.
Sekarang, Martunis sedang meniti karier mengikuti sang idola yang juga ayah angkatnya. Oktober ini sudah empat bulan remaja berusia 18 tahun itu bergabung dengan akademi Sporting Lisbon. Belakangan kisah Martunis dan Ronaldo ditulis oleh Ronald Duker dalam kolomnya di majalah mingguan FIFA.
Lewat tulisannya dalam rubrik "The Art of Football", yang terbit Jumat 9 Oktober 2015, Duker mengaitkan kisah perjalanan Martunis dengan kisah-kisah lahirnya kepahlawanan dari era Musa hingga Oedipus. Tulisan itu berjudul "The Stuff of Legend".
Duker membuka tulisan tersebut dengan sebuah pertanyaan, "Bagaimana bisa seorang bocah bisa menjadi pahlawan?" Dalam tulisan itu disebutkan, kisah-kisah kepahlawanan punya garis besar yang mirip. Seorang pahlawan kerap digambarkan lahir dari keluarga raja yang memiliki banyak kemudahan.
Namun bagi Martunis, ceritanya sedikit berbeda di mana anak pasangan Sarbini dan Salwa itu mengawalinya dari kesusahan saat menjadi korban tsunami 2004 lalu. Peristiwa maha dahsyat itu yang kemudian melambungkan nama serta bisa bertatap muka dengan pemain kelas dunia.
Bahkan Martunis yang sedang belajar sepak bola di negara idolanya juga belum bisa menentukan apakah masa depannya bakal secerah ayah angkatnya atau tidak.
Kendati, gayanya sudah mengikuti sang idola CR7, baik dari segi gaya rambut, fashion, dan lainnya. Tentu saja termasuk belajar sepak bola di akademi yang sama saat mantan pacar Irina Shayk itu mengawali karier.
Namun, apakah mitologi kepahlawanan lantas akan berulang? Tidak ada yang bisa berkata. Hanya waktulah yang bisa menjawab apakah Martunis bisa berkembang di lapangan hijau atau tidak.
Namun, bila merunut pernyataan Direktur Akademi Sporting CP, Miguel Sampaio seperti dilansir goal.com, Martunis tidak temasuk "keluarga raja" karena dia harus berlatih keras di gym guna menyesuaikan postur tubuhnya dengan rekannya dari Eropa.
“Tujuannya saat ini adalah agar Martunis bisa beradaptasi di Portugal, belajar di dalam dan di luar lapangan. Memiliki kegiatan di sini, sepakbola, bahasa, dan hal apapun itu,” sebut Sampaio yang juga psikolog olahraga di akademi tersebut.
Menurut dia, Martunis telah berjuang keras untuk membuktikan diri bahwa ia layak berada di akademi Sporting Lisbon. “Kami melihat dia setiap hari dan mencoba untuk membantunya dalam segala hal. Mulai dari sosial, pengalaman, serta studinya,” kata Miguel Sampaio.
“Martunis menunjukkan memiliki karakter dan visi sepakbola yang sesuai dengan Sporting. Kami melihat dia suka bermain sepakbola dan kemampuannya bisa untuk masuk ke dalam akademi kami,” ujar dia.
Tapi paling tidak, ini sudah menunjukkan bahwa sepak bola mampu menuliskan kisah indah yang biasanya ditemukan dalam literatur seni dan mitologi. [indra/lpt6/goal]





By — Mismail